Minggu, 22 Maret 2015

Bapak FX.Priyanto, Pelatih Lektor Sejati

Oleh: Agustian Tatogo

       
Bpk.FX Priyanto, doc. Bu Nanik
Lektor adalah orang bertugas membacakan Firman Tuhan di gereja saat melaksanakan Perayaan Ekaristi. Tujuan lektor adalah agar Firman Tuhan yang dibacakan oleh lektor itu dapat sampai kepada umat dan dipahami umat dengan baik. Tidak semua orang bisa menjadi le
ktor. Menjadi lektor yang baik, dibutuhkan cara- cara yang baik dan tepat untuk mengerti arti lektor.
Apa saja syaratnya agar suatu bacaan itu dapat sampai dan dipahami umat? Berikut ini ada enam pilar utama dalam membacakan Firman Tuhan dengan baik:
   1.      Artikulasi: mengucapkan kata- kata dengan jelas dan tepat.
   2.      Intonasi: lagu kalimat, ketepatan penyajian tinggi rendahnya nada.
   3.      Power: mengatur besar kecilnya suara. Akan lebih baik jika suara kita dibantu oleh mike.
   4.      Pause/ Jeda: mengatur kecepatan waktu, memberi istirahat sejenak pada akhir suatu kalimat.
   5.      Frasering: pengelompokkan kata tetapi belum menjadi kalimat.
   6.      Penjiwaan: penjiwaan itu mantap jika kelima pilar di atas itu terpenuhi.
Pilar pertama hingga pilar kelima di atas ini adalah syarat yang harus dipenuhi oleh seorang lektor. Seorang pelatih lektor, FX.Priyanto mengatakan “Lima pilar tersebut ibaratnya tiang untuk membangun rumah. Bila satu di antara lima pilar di atas tidak terpenuhi, maka penjiwaan menjadi “kering”, sehingga Firman Tuhan yang dibacakan itu kurang dipahami oleh umat yang mendengarkannya”.
Di samping kelima pilar utama ditambah penjiwaan itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membacakan Firman Tuhan.Seorang ahli liturgi dan Alkitab, Rm.Yuwono Suwondo, Pr., mengatakan “Selain artikulasi, intonasi, power, pause dan frase serta penjiwaan itu juga diperlukan penampilan diri yang cukup rapih.Rapih, bukan berarti penampilannya seperti artis. Artinya, penampilannya sederhana tetapi pantas di depan umat. Dan tentunya, seorang lektor membutuhkan keberanian untuk tampil di depan (banyak) umat”.
Selama dua tahun di Yogyakarta, saya mendalami lektor bersama Bapak FX.Priyanto. Selain Pak Priyanto, ada Bu Nanik (istri Pak Priyanto). Mereka memahami banyak hal tentang lektor. Selama dua tahun itu, mereka mengajarkan saya cara membacakan lektor yang baik dan benar. Setiap minggu, saya mendatangi rumah keluarga Pak Priyanto untuk belajar, sebab tempat tinggal kami berdekatan.
Ketika berada di Papua, saya sering mendapatkan tugas menjadi  lektor di gereja. Namun, saya tidak banyak paham tentang arti lektor itu sendiri. Di Yogyakarta inilah, saya menemukan sesosok orang yang bisa diandalkan untuk mengajarkan saya lektor. Keluarga FX.Priyantolah yang melatih saya menjadi lektor yang baik dan benar.
Menurut Bapak Priyanto, hanya dalam tiga bulan, saya sudah bisa memahami lektor dengan baik. Pertama kali beliau mendengarkan saya membacakan bacaan, namun bacaan yang saya bacakan itu ambur adul, menurut beliau. Setelah menjalani latihan lektor bersama keluarga Pak Priyanto, saya menjadi paham akan arti lektor yang sesungguhnya.
Menurut saya, sebenarnya saya belum mahir dalam membacakan Firman Tuhan. Namun, Pak Priyanto menilaiku dengan baik. Sering kali, beliau mengapresiasi saya akan kecepatan pemahaman lektor. Bahkan beliau pernah mengatakan “Kamu orang Papua tetapi ke-Papua-anmu (terutama menjadiu lektor) kurang nampak”. Ucapan tersebut dikatakan demikian sebab beliau pernah tugas di Manokwari, Papua selama tujuh tahun. Jadi, beliau mengetahui sifat orang Papua. Sering kali, saya mendapatkan penghargaan berupa jempol dari beliau maupun dari Bu Nanik. Mengenai penghargaan, saya tidak menyombongkan diri. Sekali lagi, ini bukan promosi namun itulah yang benar- benar terjadi pada saya dan keluarga Pak Priyanto sekitar tahun 2011 hingga 2012.
Kerap kali, keluarga Pak Priyanto mengajak saya ke gereja- gereja yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya untuk memberi materi lektor sekaligus melatih lektor. Tidak hanya gereja, beliau juga mengajak saya ke kelompok- kelompok kecil hingga kelompok- kelompok besar. Beliau selalu mengajak saya karena beliau ingin memperkenalkan bahwa Orang Papua juga bisa dalam hal apapun. Bahkan, beliau memperkenalkan bahwa ketika seseorang punya motivasi yang tinggi untuk melakukan sesuatu hal maka sesuatu itu mudah dilakukan meskipun banyak tantangan yang dihadapinya.
Setiap kali belajar lektor, Pak Priyanto menceritakan “Tuhan memberikan segala sesuatu-Nya kepada kita dengan cuma- cuma, maka kita juga memberikan kepada orang lain dengan cuma- cuma pula”. Hal itu pula yang dikatakan banyak orang termasuk oleh P.Christoporus Aria Prabantara, SJ (Rm. Tito). Belajar lektor bersama keluarga Pak Priyanto bukanlah sebuah kursus. Saya tidak dipungut biaya. Justru, setiap kali saya mengunjungi rumahnya, beliau memberikan makanan dan minuman untuk saya makan dan bawa pulang. Utang saya pada keluarga Pak Priyanto sangat besar, namun saya belum/ tidak  bisa membalasnya.
Pada akhir tahun 2012, datanglah kabar yang membahagiakan namun sebenarnya sedih. Tidak hanya keluarga besar Bu Nanik yang mengalami kesedihan itu, tetapi semua orang yang pernah mengenal sosok Bapak FX.Priyanto. Beliau memberikan banyak hal kepada keluarganya serta kepada semua orang yang pernah mengenal beliau. Beliau orangnya ramah, menerima apa adanya. Selama hidupnya di dunia ini, beliau mewartakan banyak hal yang kepada semua orang. Tidak hanya cara membaca  Firman Tuhan yang beliau berikan kepada kami namun juga arti kehidupan. Beliau meninggalkan kehidupan di dunia ini dengan damai  dan sukacita. Setelah beliau tiada di dunia ini, kitalah yang melanjutkan pewartaannya seperti para rasul mewartakan Firman Tuhan setelah Tuhan Yesus meninggalkan mereka. Selamat jalan Bapak Fransiskus Xaverius Priyanto. Semoga, arwahnya diterima di sisi Kanan Allah Bapa. Kita juga berharap agar beliau juga mendoakan kita yang masih berziarah di dunia ini.
---------

Rabu, 18 Maret 2015

KECANDUAN INTERNET



Oleh: Agustian Tatogo
 
Berkembangnya teknologi pada era globalisasi ini memiliki dampak yang sangat besar. Di samping teknologi dapat membantu masyarakat dalam mencari informasi dengan mudah dan dapat berkomunikasi langsung dengan orang yang kita kenal. Teknologi sekarang juga memiliki dampak negatif yang sangat besar. Hal ini dapat dilihat di mana banyak orang menggunakan teknologi sebagai sarana yang dapat membayakan diri sendiri maupun orang lain. Teknologi modern juga juga menjadi sarana melakukan kejahatan.
Ketika saya bekerja sebagai operator (OP) pada salah satu warnet (warung internet) di pinggiran kota Yogyakarta, saya bertemu banyak anak yang keluar masuk warnet. Setelah saya amati, rupanya mereka buka internet dan lebih banyak buka situs jejaring sosial di dunia maya seperti facebook, twitter, dll. Ketika mereka buka komputer, tidak sedikit yang saya temukan adalah membuka setiap folder yang terdapat pada komputer. Hal lain adalah mereka juga membuka situs- situs berbauh pornografi.
Tidak hanya itu, menariknya lagi bahwa mereka lebih banyak bermain game online. Jika main game hanya sekedar hiburan saja tidak masalah. Namun, mereka main game setiap hari dan main game tidak kurang dari dua jam. Perilaku tersebut bukan saja menjadi kebiasaan tetapi sudah menjadi kecanduan. Mirisnya bahwa pelaku tersebut tidak hanya orang dewasa saja, namun justru anak- anak yang saat ini berstatus sebagai siswa SD dan juga siswa SMP. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game online dibanding belajar (sekolah) atau bermain dengan teman- teman seusia mereka atau membantu orang tua di rumah.
Bermain game online sering kali menciptakan emosional akan kecanduan game. Emosional tersebut dapat dilihat melalui ucapan- ucapan bernada kotor. Beberapa kata yang biasa diucapkan para pelaku tersebut adalah goblok, asuh, bajingan, enthot, tolol, konthol, dll. Banyak nada kotor tersebut biasa diucapkan oleh pelaku yang tidak lain adalah anak SD ataupun anak SMP tersebut.

Perlu Pendidikan Karakter
Jika anak- anak memiliki perilaku seperti ini, maka siapa yang salah? Tentunya banyak pihak harus bertindak untuk menyadarkan kecanduan akan dunia maya termasuk game. Pendidikan karakter paling dasar adalah orang tua di rumah. Ketika anak sudah menginjak usia balita kemudian usia play group atau TK maka di situlah penerapan pendidikan karakter yang sesungguhnya. Jika orang tua saja belum memahami pendidikan karakter, maka bagaimana mereka bisa mendidik anaknya? Jika keluarga tersebut adalah broken home, maka bagaimana anak bisa bertumbuh menjadi pribadi yang berkarakter?
Sekolah adalah tempat kedua anak untuk belajar, tumbuh dan berkembang menjadi pribadi berkarakter. Untuk itu pihak sekolah sebagai keluarga kedua mampu mendidik anak/ siswa. Peran sekolah terutama pimpinan sekolah dalam mengambil kebijakan yang dapat membantu anak menjadi dewasa. Di samping itu pula guru kelas yang terdapat pada setiap kelas. Guru kelas tidak hanya memberikan materi semata, namun yang lebih penting adalah mendidik karakter anak didiknya. Guru kelas haruslah bertindak seperti orang tua di rumah sehingga karakter anak menjadi lebih baik. Anak menjadi lebih leluasa dalam belajar, tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter baik.
Masyarakat di lingkungan sekitar juga perlu membantu anak dalam berkembang menjadi pribadi berkarakter. Salah satu wujud nyata dalam pendidikan karakter pada lingkungan sekitar adalah kegiatan- kegiatan lingkungan yang dapat membantu dalam mengembangkan diri. Misalnya, kegiatan yang melibatkan anak- anak. Kemudian perlu pula peran dari ketua lingkungan termasuk RT, RW atau kelompok muda setempat dalam mendidikak karakter anak.
Di samping orang tua, sekolah, masyarakat lingkungan sekitar pula agama juga berperan dalam mengembangkan karakter anak. Tokoh agama di tempat ibadah juga harus mendidik anak, mengembangkan karakter anak. Hal- hal yang bisa dilakukan oleh tokoh agama adalah mengadakan kegiatan keagamaan yang melibatkan semua unsur warganya termasuk anak- anak.
Semua unsur di atas harus berperan dalam mendidik anak menjadi pribadi yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan juga bagi masyarakat sekitar. Dengan mendidik anak dengan baik maka terciptalah anak yang karakternya baik. Dididiknya karakter pada anak maka kepribadiannya akan terbentuk dan menjadi pribadi bertumbuh dan berkembang sebagai manusia berakhlak mulia. Dan perilaku negatifnya menjadi kurang begitu nampak jelas. Maka keinginan untuk bermain game online menjadi berkurang dan tidak menjadi kebiasaan terus menurus ataupun tidak menjadi kecanduan akan internet terutama situs jejaring sosial termasuk game online.