Rabu, 12 Desember 2012

TOUR KE KLATEN- KEMALANG

-->
Pada suatu hari yaitu hari yang tidak diduga-duga, hari Rabu, 12 Januari 2011.
Pada sore hari, pukul 15.00 WIB saya berencana untuk masukkan uang di bank BRI Unit Maguwoharjo yang terletak di jalan Ringroad Timur di pinggir jalan Jogja-Solo dan setelah itu olah raga ngepit (bersepeda). Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB (jam 4.00 sore), saya berangkat ke bank tersebut. Setibanya di bank, ternyata bank BRI tersebut ditutup pukul 15.00 WIB. Maka saya memutuskan untuk olah raga ngepit (bersepeda) tetapi tidak tahu arah dan tujuannya.
Saya ngepit ke arah timur Jogjakarta, saya terus mengayuh sepeda. Saya, melalui jalan Jogja-Solo melewati daerah Kalasan, terus mengayuh sepeda ke arah timur yaitu daerah Prambanan. Tanpa henti saya terus mengayuh sepeda sampai di Kabupaten Klaten. Sesampainya di Kantor Bupati Klaten, saya istirahat. Di tempat itu, waktu menunjukan pukul 16.00 WIB.
Setelah istirahat sekitar 15 menit, saya hendak pulang ke tempat saya tinggal yaitu desa Pingan, Maguwoharjo, Yogyakarta, namun tidak melalui jalan Jogja-Solo melainkan ke arah gunung Merapi dan dari Merapi saya akan pulang ke tempat saya tadi. Saya mengayuh sepeda ke arah utara Klaten. Di dekat Kota Klaten itu, saya bertanya kepada seorang bocah kecil yang juga sedang bermain sepeda: “Adik, tahu tidak jalan ke Merapi?” “Saya juga tidak tahu, tapi jalan ini kayaknya ke Merapi” ujarnya.
Saya terus melewati sawah-sawah, pemandangan yang indah mempesona. Di daerah Nglingi, saya bertanya kepada seorang petani yang sedang duduk istirahat di pinggir jalan, “Nuwun sewu pak, jalan teng Merapi niki pundi pak?” Lalu bapak tersebut menjelaskann jalan ke Merapi pakai bahasa Jawa seluruhnya, tetapi semua omongan bapak itu saya mengerti. Tidak sia-sia saya belajar bahasa jawa. Ketika saya bertemu seseorang khususnya orang jawa entah di mana pun, saya pasti pakai bahasa jawa walaupun itu jawa ngoko (Ngoko bukan Krama Inggil). Saya bertanya lagi: “Jarak saking mriki mangke Merapi niki pinten?” Jawabnya: “Jarakne selawe-an” jaraknya 26 km.
Saya melanjutkan perjalananku ke arah Merapi. Melewati ladang-ladangnya para petani di daerah Nglingi. Untungnya jalan di sekitar Desa Nglingi itu datar jadi mengayuh sepeda agak cepat. Di suatu tempat, jarum jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, saya istirahat di suatu angkringan sambil minum es teh. Di tempat itu saya bertanya kepada orang yang ada situ: “Pak, jalan ke Merapi jaraknya dari sini berapa?”., “Oh, masih jauh de, kira-kira 25-an kilometer” Ungkapnya, lagi sambil nunjuk tangan ke arah utara, “Kalau kamu ke arah sana lagi kira-kira 5 kilometer, kamu akan ketemu pertigaan besar, petingaan itu kalau ke kanan berarti ke Boyolali dan kembali ke Klaten. Kamu ikuti jalan ke kiri saja, nanti kalau binggung tanya orang yang ada di daerah sekitar itu” ujar bapak itu. Saya sangat berterimakasih kepada orang-orang tersebut karena mereka ramah terhadap saya.
Saya pun melanjutkan perjalanan saya. Mulai dari daerah itu jalannya tidak datar, berkelak-kelok bahkan naik-naik. Begitu mengayuh sepeda sampai di pertigaan besar yang telah diberitahu oleh bapak tadi, saya pun ikuti arah ke kiri. Saya pun terus tanpa henti mengayuh sepeda walaupun jalannya tidak merata agar tujuan saya ke Gunung Merapi tersebut tercapai. Karena kondisi jalan yang cukup memprihatinkan, artinya jalan itu tanjakan, tikungan, banyak debu akibat truk-truk besar yang sedang melewati jalan tersebut mengambil pasir-pasir banjirnya lahar dingin pasca meletusnya Merapi, serta jalannya bolong-bolong. Saya membayangkan kalau saya sedang melewati di jalan trans Nabire-Paniai, persis sama jalannya.
Saya telah melewati sekitar 15 kilometer dari Klaten, cukup melelahkan namun karena saya yakin bahwa saya akan tiba di Gunung Merapi pada waktu yang telah saya tentukan yaitu pukul 19.00 WIB. Di pertengahan jalan, saya sering menuntun sepeda kalau saya sedang kelelahan, namun saya tidak berhenti dan istirashat. Setiap kali saya bertanya kepada orang yang ada di pinggir jalan pun hanya sebentar saja lalu saya langsung melanjutkan perjalananku. Jalannya mendaki, saya makin kelelahan namun karena tujuanku maka saya tidak berhenti sedikit pun, apalagi matahari sudah hampir menghilang. Hari sudah gelap, dengan susah payah saya tiba di suatu tempat karena waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tempat tersebut adalah Dusun Imbuhrejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, 25 kilometer dari pusat Kabupaten Klaten.
Saya bertanya kepada seorang bapak yang sedang duduk santai di depan tokoh kecil: “Pak, jarak dari sini ke Merapi berapa?” Ia menjawab: “Jaraknya kira-kira 10 kilometer lagi ke Merapi”. Saya pun balik bertanya: “Kalau jalan ini menuju kearah Merapi kah?” “Ini bukan jalan persis ke Merapi tetapi di sebelah utara Merapi kira-kira 8-an kilometer” Ucapnya. Lagi bertanya: “Pak, ada tidak jalan ke daerah Cangkringan, Sleman, atau daerah Jogja?” Ia pun menjawab demikian sambil menunjuk jari ke arah jalan: “Kalau jalan ini bisa ke Cangkringan tapi jalan tikus, jaraknya 17-an kilometer dari sini, rumah pun jarak-jarak, apalagi lampunya ada kalau ada rumah. Terus daerah sebelum Cangkringan itu, jalannya sebagian sudah hilang karena banjir lahar dingin dari Merapi, ada banyak jalan kecil juga di tengah jalan jadi membuatmu binggung, kamu tidak mungkin bertanya kepada orang di sekitar sana karena mereka pada tidur semua”. Lagi menjawab: “Lebih baik kamu kembali turun kira-kira 10-an kilometer, kamu akan ketemu pertigaan yang salah satu jalannya ada gapura yang bertuliskan Desa Blinggingharjo, kamu tanya orang yang yang ada di sana”. “Terimakasih pak atas penjelasannya” jawabku. Saya pun lekas turun kembali melalui jalan tadi.
Setelah kembali turun kira-kira 10 kilometer, saya ketemu suatu pertigaan besar, yang jalan ke kanan ada gapura yang bertuliskan Desa Blinggingharjo. Saya pun teringat akan kata-kata bapak tadi sehingga saya berhenti di situ. Saya bertanya kepada sekeluarga yang sedang duduk di pintu depan. Saya disuruh istirahat di rumah tersebut meskipun baru mengenal. Kami pun asyik berbincang-bincang tentang kehidupan, ternyata keluarga tersebut adalah keluarga katolik. Mereka menjelaskan jalan-jalan sekitar Jogja, Klaten, Kemalang, dan daerah-daerah lain. Cukup lama saya beristirahat di tempat itu. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, saya pun pamit pada keluarga tersebut untuk pulang ke tempat saya tinggal. Mereka menjelaskan, “Kamu ikuti jalan ke kanan terus walaupun ada jalan-jalan kecil. Kira-kira 14-an kilometer, kamu akan ketemu pertigaan, ke kiri itu ke arah Klaten dan ke kanan ke arah Kaliurang. Kamu tanya pada orang yang ada di sana”. Saya merasa bahwa Tuhan itu selalu ada bersama saya walaupun dalam lembah kekelaman.
Selama penjalanan pulang, saya menyalahkan lampu HP karena sepeda saya tidak punya lampu dan jalanannya pun tidak ada lampu walaupun ada kendaraan yang selalu melewati. Saya tiba di pertigaan yang telah diberitahu oleh keluarga tadi. Saya pun berhenti dan bertanya kepada warga yang ada di situ: “Mas, jalan ini kemana saja?”. Sambil menunjuk jari ke arah jalan ia pun menjawab: “Mas, kalau jalan ke kiri berarti ke arah Klaten tetapi kalau ke kanan berarti kearah Kaliurang” lagi menambahkan: “Mas ikut ke arah Kaliurang, kira-kira 5 kilometer kamu akan ketemu perempatan. Mas ambil jalan ke kiri setelah itu ikuti jalan itu terus kira-kira 12-an kilometer, Mas akan ketemu jalan raya Jogja-Solo”. Saya berterimakasih atas penjelasannya.
Saya hendak pulang ke tempat saya tinggal, mengayuh sepeda dengan susah payah karena keadaan sangat melelahkan karena berjalan berkilo-kilo meter. Saya beristirahat di suatu warung pecel ayam di daerah sebelum Prambanan dan makan malam karena perut saya sudah minta lapar. Saya pulang mengayuh sepeda dalam kondisi parah karena kecapaian. Setibanya di jalan raya Jogja-Solo tepatnya di sebelah timur Candi Prambanan, saya pun pulang ke Desa Paingan, Maguwoharjo tempat saya tinggal mengikuti jalan raya tersebut.
Belum lama sampai di Kantor Keuangan Daerah Kalasan, saya mengambil arah kanan jalan raya dan masuk ke arah utara Kalasan. Sesampainya di Selokan Mataram, saya pun mengikuti jalan sepanjang selokan tersebut hingga tiba di Ringroad Utara kota Yogyakarta. Saya pulang ke Paingan, Maguwoharjo, Sleman, DIY tempat saya tinggal. Saya tiba di  pada pukul 21.30 WIB.

KESAN
Perjalanan kali ini sangat melelahkan di banding perjalan sebelum-sebelumnya yaitu ke Pakem, Godean, Kalasan, Kota Baru, dan tempat-tempat lain. Selain itu, waktu saya masih berada di Nabire, Papua, saya pernah bepergian ke Pelabuhan Samabusa yang jaraknya 30-an kilometer dari Kota Nabire. Perjalanan kali ini adalah perjalanan terpanjang dan terlama selama SMA di Nabire-Papua dan Kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta semester satu (I). Saya menjadi ‘turi’ di daerah yang jauh dari tempat saya tinggal, lamanya saya berkelana menjadi turi adalah enam setengah jam (jam 4.00 sore sampai 9.30 malam). Di samping perjalanan yang melelahkan, saya mendapat suatu pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa, mudah berinterksi dengan orang-orang baru, orang-orang yang saya belum kenal sama sekali. Di sisi lain saya ingin melihat situasi dan kondisi yang ada di tempat lain.

Mengapa saya perluh olah raga/turi ke tempat jauh dan berani terhadap semua risiko?
Saya belum bisa menjawab pertanyaan di atas ini tetapi sejauh apa yang saya pikirkan dan rencanakan dalam benak pikiran saya, yakni:
1)      Olah raga adalah aktivitas yang menggerakkan seluruh badan supaya badan kita tetap fit, menghilangkan setresan otak dan pikiran kita, mengontrol tubuh kita dari serangan penyakit yang menyusup dalam tubuh kita, serta menghilangkan beban kita terhadap segala macam belenggu.  
2)      Mengendarai sepeda menjadi prioritas saya selama hidup di SMA di Nabire maupun Kuliah di Yogyakarta. Maka tidak heran kalau saya bepergian ke mana-mana menggunakan sepeda kayuh.
3)      Saya suka olah raga ke daerah-daerah baru, daerah yang belum saya ketahui.
4)      Hidupku tergantung pada Tuhan. Artinya, dalam perjalanan tersebut mendapat kecelakan atau kegembiraan, semuanya itu adalah rencana Tuhan. Maka seluruh hidupku berserah pada Dia Yang Maha Kuasa.

Mengapa saya selalu menggunakan sepeda kayuh bila hendak bepergian?
Saya tidak tahu apa alasan mengapa saya selalu menggunakan sepeda kayuh kalau hendak bepergian ke mana saja entah jaraknya dekat atau jauh! Tetapi sejauh saya memahami beberapa alasan, yakni:
1)      Dengan menggunakan sepeda kayuh, segala aktivitas saya menjadi lebih ringan di banding jalan kaki atau pinjam motor orang lain. Seandainya saya punya motor, uangku akan habis sedikit demi sedikit dalam pembelian bahan bakar, service motor bila rusak, dll., padahal uang yang saya pergunakan selama SMP, SMA dan Kuliah adalah uang dari para umat bukan dari orangtua.
2)      Setiap hari saya menggunakan sepeda, alhamdulillah pori-pori kulit pada tubuh saya selalu mengeluarkan zat beracun melalui keringat. Saya tidak suka main bola (bola apa saja) tetapi olah raga paforit saya adalah olah raga mengayuh sepeda alias ‘ngepit’ dan olah raga lari pagi alias ‘jogging’. Akibatnya selama SMA dan Kuliah saya belum pernah sakit berat kecuali sakit kecil seperti, pilek, sakit perut, dll.


By: Agustatogo












Game Matematika11

-->
Kerjakan Pengurangan berikut.
Tuliskan hasilnya pada petak yang telah disediakan.


Menurun:
2. 428 – 110  = …
4. 323 – 180  = …
6. 444 – 153  = …
8. 361 – 275  = …
9. 500 – 185  = …
10. 495 – 65  = …
12. 384 – 258 = …

Mendatar:
1.     464 – 151  = …
3.     441 – 329  = …
5.     308 – 180  = …
7.     400 – 162  = ..
9.     432 – 118  = …
11.295 – 254  = …
13.500 – 0       = …
14.454 – 86     = …



 1

 2

 3
 4








 5
 6


 7

 8







 9

 10

 11
 12








 13



 14



By: Agustat

Game Matematika

-->
Kerjakan penjumlahan berikut. Tuliskan hasilnya pada petak yang telah disediakan.


Menurun:
1.     21   + 156  = …
2.     351 + 410  = …
4.    445 + 354  = …
6.     405 + 291  = …
8.     211 + 41     = …
10.           11   + 670  = …


Mendatar:

1.     123 + 54   = …
3.     70   + 707  = …
5.     133 + 33     =…
7.     29 + 100     = …
11.           111 + 555   = …
11.           144 + 152    = …
12.           480 + 401     = …




1

2


 3
 4

 5
 6



 7
 8

 9
 10



 11


 12